Sang ABDI (Sesajen)

29 min read

Sang ABDI (Sesajen)

cerita ini adalah cerita yang dulu pernah ramai di daerah rumah cangah gw, rumahnya itu di desa, masih asri, sungai masih mengalir jernih, kiri-kanan masih sawah, mayoritas penduduknya kalau gak bertani ya berternak, nah, di desa ini, ada satu keluarga, juragan, yang kaya sekali. kekayaanya, gak usah dipertanyakan lagi.

saking kayanya, dimakan 7 keturunanya, gak akan habis, sampe-sampe pemda, ngeblacklist dia buat beli tanah di daerah tersebut, kalau gw sebut daerahnya, pasti langsung ketahuan siapa yang gw maksud. karena kekayaanya sampe sekarang. gw gak ada maksud ghibah atau apapaun, hanya share cerita tentang salah seorang yang pernah bekerja untuk keluarganya, dan sebenarnya, orang di desa semuanya tahu, tahu akan apa yang gw tulis ini

semacam rahasia umum. tapi balik lagi, pasti ada hikmah di balik cerita ini, semoga jadi, daripada kelamaan, gw mulai saja ceritanya.

semua dimulai di malam itu. di Desa, bukan hal aneh, penjual bakso berdagang sampai jam 2 dinihari, nah, waktu itu, karena daganganya masih sisa beberapa mangkok, beliau kebetulan lewat sebuah jalan tanah menuju salah satu desa, gak ada pikiran apapun, niatnya hanya berdagang saja. sampe, sseorang memanggil “Bakso”

suara perempuan, tidak beberapa lama, terlihat perempuan, parasnya cantik, masih muda, ia memberikan mangkok, sembari menunggu si abang menjajakkan daganganya, di liriknya kaki si pembeli, alhamdulilah, napak tanah, jadi bukan hantu.

sambil basa basi, si abang tanya. “rumah panjenengan dimana?” “kok gak pernah lihat ya”

si mbak yang beli, menunjuk sebuah rumah, dengan teras yang luasnya gak kira-kira, disana, berdiri sebuah rumah megah, paling megah pada tahun segitu.

diantara rumah lain di desa ini, tidak ada yang tidak kenal rumah itu. “Rumah Cipto” begitu orang dulu memanggilnya, karena rumahnya memang milik keluarga yang paling terpandang, paling kaya sekaligus paling berkuasa di desa itu
setelah bertanya itu, si penjual bakso kembali basa-basi, mulai bertanya mulai dari siapa mbaknya, sampai ke ranah pribadi Mbaknya menjawab ala kadarnya, bahwa ia adalah Abdi, si penjual tidak paham maksud Abdi, yang ia pikirkan itu adalah, bahwa ia, bekerja pada keluarga Cipto tadi.

di tengah obrolan sembari menyelesaikan daganganya, tiba-tiba, si mbak, mengatakan sesuatu kepada si penjual. “besok, lewat sini lagi ya bang, jamnya kalau bisa, jam segini lagi, saya akan beli lagi bang”

setelah itu, si mbaknya, masuk ke gerbang pagar, dan menghilang di balik pintu rumah.

Aneh. baru kali pertama, seorang pedagang keliling, memiliki pelanggan tetap di jam tertentu. selama hampir 5 hari, si abang lewat jalan itu, dan seolah-olah, pesan si mbak seperti sebuah tanggung jawab yang harus abang itu penuhi.

bahkan, saat daganganya akan habis, selalu ia sisakan satu mangkok hanya untuk menjualnya pada si mbak yang bahkan tidak ia tahu namanya. di malam yang ke enam itu, saat melewati tempat itu, si penjual bakso, mendengar suara perempuan menangis.

takut. ngeri, suaranya terdengar sangat sedih.

ingin lari dan kabur, namun, terurungkan ketika si abang, terpaku melihat di samping pagar, si mbak yang rupanya menangis. “Mbaknya kenapa menangis?”

si mbak yang kaget, kemudian berpura-pura bahwa ia tidak menangis, entah apa alasanya untuk meyakinkan abang penjual bakso itu, meski berbohong, si abang tidak mau ikut campur lebih jauh tentang masalahnya. singkat cerita, si abang kemudian menjajakkan daganganya, malam itu, ia kasih gratis agar si mbak tidak sedih lagi.

saat itu lah, si mbak, lagi-lagi, mengatakan hal yang tidak di mengerti.

“besok abang, gak perlu lewat sini lagi, toh saya sudah gak disini lagi” mendengar itu, si abang sebenarnya ingin bertanya, apa si mbak berhenti dari pekerjaanya sebagai abdi, atau ia mau pulang kampung.

namun, pertanyaan itu, ia urungkan.

dan benar saja, di malam berikutnya, si mbak tidak ada lagi untuk membeli daganganya. sudah lebih dari seminggu, si mbak tidak pernah keluar lagi, muncul banyak pertanyaan, kenapa si mbak menangis, kenapa si mbak tidak disini lagi, dan entah bandel atau apa, rupanya si abang tetap lewat jalan itu.

sampai suatu malam, ketika ia lewat jalan itu lagi, mbaknya muncul “Bakso”

si abang seneng bukan main melihat si mbaknya muncul lagi, tanpa basa basi, di jajakkanya daganganya itu, namun malam itu, si mbak tidak seperti biasanya, wajahnya murung dan tatapanya terus menerus menunduk, tidak hanya itu, bahkan suaranya lebih serak. “Mbaknya sudah kembali kesini, masih tinggal di rumah itu mbak”

“mboten mas” (tidak mas) kata si mbak, kemudian, ia menunjuk sebuah kebun, disana banyak pohon besar, mulai dari mangga sampai jambu yang masih ada di tanah milik keluarga Cipto. si abang bingung. apa mungkin keluarga Cipto membangunkan rumah untuk si mbak di tanah itu?

setelah mendapatkan baksonya, si mbak pergi, dan benar, dia tidak masuk ke gerbang rumah, tapi, menghilang di kebun tadi. si masnya langsung kabur. sesampainya di rumah, si abang gak bisa tidur, terbayang wajahnya si mbak, selain itu, bulukuduknya merinding, dan benar-benar gila, dari samping rumah si abang, ada suara perempuan menangis.

namun, si abang tidak berani memeriksa, ia terus berdoa dan berdoa, sampai tertidur. siang hari, setelah kulakan bahan untuk bakso nanti malam, si abang penasaran, kemudian ia tidak sengaja lewat jalan itu, tanpa pikir panjang, ia parkirkan sepda onthelnya. lalu masuk ke kebun itu

disana, rupanya hanya ada pohon-pohon yang di tanam campur aduk, tidak ada apa-apa tidak ada apa-apa, sampai, tercium aroma bangkai

ketika si abang melihat ke atas pohon mangga, si abang terperanjat melihat si mbak, tergantung dengan mata terbuka lebar, lidahnya menjulur keluar, tatapanya, seakan-akan melihat si abang

melihat itu, si abang teriak minta tolong tidak beberapa lama, warga sudah memenuhi tempat itu, termasuk polisi, dan si pemilik rumah, setelah di identifikasi rupanya, identitas si mbaknya adalah mbak Ratih, ia bekerja sebagai penjaga anak yang sudah hilang satu minggu lebih. pihak pak cipto mengira Ratih pulang. tahu dimana kejanggalanya??

yang membuat si abang gaguk gak mengatakan apa-apa. selain semalam si abang melihat si mbak membeli bakso miliknya, waktu antara hilang dan di temukan meninggalnya tidak cocok, karena menurut pihak kepolisian, si mbak kemungkinan sudah meninggal antara kurun waktu 2-3 hari.

jadi, kemana sisa 4 hari keberadaan si mbak berada? kecuali ada kebohongan tentang hilangnya si mbak. keluarga itu, menyembunyikan sesuatu.

sesuatu, dari maksud 4 hari kemana si mbak berada?? dan tentu saja, pesan terakhir si mbak itu. namun cerita ini, akan di mulai, dari sini. -Sang ABDI (Sesajen)

Cerita ini di mulai bukan untuk menceritakan kematian perempuan itu, melainkan menceritakan teka-teki, dari seseorang yang menjadi saksi, berbagai hal yang membingungkan, bahkan mengerikan yang ia temui, selama mengabdi pada keluarga CIPTO, dan disini, gw akan memulai ceritanya. setelah kejadian itu, memang banyak desas-desus yang hampir di ketahui semua warga desa, tapi, tidak ada yang berani mencari tahu lebih jauh, dan perlahan-lahan, kejadian itu, lenyap seperti embun. menghilang begitu saja, dan kemudian, dilupakan. seseorang yang menceritakan ini adalah tetangga dari Cangah gw, sebut saja namanya, pak BUDI, dulu, saat masih muda, setelah selesai menempuh pendidikan SMP, beliau mengawali karirnya sebagai kernet sopir Truk. berbagai perjalanan sudah ia jabani, mulai dari rute antar kota sampai rute antar provinsi,

semua pengalaman ini, memupuknya menjadi pribadi yang tangguh, dan membuatnya menjadi salah satu orang yang bisa mengendarai, mulai dari mobil pick up, sampai Truk gandeng. karena dirasa jalan hidup sebagai sopir ekspedisi tidak membuatnya menjadi pria yang mapan dengan segala tuntutan bahwa ia adalah anak pertama yang harus sukses, pak Budi pun berhenti menjadi sopir truk

sebuah jalan terbuka, ketika tetangganya memberitahu, bahwa, keluarga CIPTO- sedang mencari seorang sopir Pribadi.

semua tahu, siapa keluarga CIPTO, terlepas dari desas-desus yang tersebar, pak BUDI nekat, melamar kerja, dan hari itu juga, ia di terima bekerja disana. karena saat itu, tidak banyak, orang bisa menyetir mobil seperti saat ini. meski mereka bertetangga, namun, ini adalah kali pertama, pak Budi, masuk ke kediaman keluarga CIPTO, yang membuatnya berdecak antara kagum dan ngeri, sebegini besarnya rumah ini, namun, entah kenapa, ada perasaan tidak enak melihat semua perabotan dirumah ini, seolah ia di awasi saat itu, yang mengantar pak Budi, adalah bu Asirih, wanta tua yang umurnya berkisar antara 50’an, namun masih terlihat bugar, ia jarang berbicara dengan wanita ini, karena keseharian beliau adalah didalam rumah, tanpa sekalipun berbicara dengan tetangga. sebenarnya, ini bukan hal yang aneh mengenai keluarga CIPTO, karena mereka seperti terasing, meski sudah lama tinggal di desa ini, bagi para tetangga, mereka terasa seperti tidak tinggal di dunia yang sama, seolah mengundang banyak sekali pertanyaan, termasuk para penghuninya. “monggo, mriki mas” (silahkan, kesini mas) kata bu Asirih lembut dengan logat jawanya.

selama di perjalanan, pak Budi melihat kesana kemari, menganggumi berbagai patung aneh yang ia temui, terpasang di beberapa sudut bagian rumah ini, gaya desainya, benar-benar masih kejawen. saat itulah, ketika pak Budi menikmati pemandangan itu, matanya teralihkan pada sebuah pemandangan mencengangkan.

diujung matanya, ia melihat seorang anak kecil, seusia adiknya, sedang duduk, di tepi kolam ikan, ia melihatnya lama, dan kemudian teralihkan pada seorang wanita. wanita ini, berdiri tegap di belakang si anak. dan cara dia melihat pak Budi, benar-benar tidak mengenakan, karena ia melihat pak Budi masih dengan postur tubuh tegap, hanya bola matanya yang mengikuti kemana pak Budi pergi, di sudut bibirnya, ia seperti tersenyum menyeringai. ketika bu Asirih membuka pintu, melewati beberapa bagian dalam rumah, sampailah ia, di sebuah ruangan, terlihat seperti Gazebo (Paviliun) yang terbuat dari kayu jati, disana, ada seorang wanita tua, lebih tua dari bu Asirih, ia duduk, di atas kursi goyang.

matanya terpejam. namun, belum beberapa langkah bu Asirih mendekati si wanita, tiba-tiba ia bicara dan membuat pak Budi tersentak karena kaget.

“iki tah, sing bakal dadi sopirku sing anyar” (ini ya, yang akan jadi sopir baruku)

bu Asirih mengangguk, tidak berbicara, kemudian mencium tanganya. “Pak Budi, kenalkan, niki ndoro Sasri” ucap bu Asirih, beliau berdiri tegap dan mengepalkan tanganya di depan perut, membuat pak Budi bingung, seakan-akan ia berbicara di depan seorang maharaja saja.

setelah menjelaskan panjang lebar mulai dari gelar, sampai pemimpin keluarga, bu Asirih, mengantar pak Budi ke belakang rumah, disanalah nanti, ia akan tinggal. meski bertetangga, keluarga CIPTO menginginkan pengabdian dari pak Budi selama 24 jam dan harus siap, untuk itu, dibuatlah kamar itu yang memang khusus untuk sopir yang bekerja untuk keluarga ini. disanalah, bu Asirih menjelaskan semua yang ada didalam rumah ini, mulai dari unggah ungguh, hingga apa yang tidak boleh di lakukan oleh pak Budi selama tinggal di kediaman keluarga ini. saat ini, keluarga CIPTO, di pimpin oleh, ndoro Sasri, setelah kematian Eyang Sarwojo, yang meninggal karena sakit.

penerusnya, yaitu anaknya, adalah Atmojo, dan isterinya Sekar, namun mereka sudah lama tidak tinggal disini lagi, namun ada 5 anaknya yang ada disini. kesemua anaknya adalah laki-laki, dan saat ini, mereka tinggal di kediamanya masing-masing, kediaman yang di maksud bu Sasri adalah sebuah kamar khusus, yang memang tidak bisa di masuki oleh sembarang orang

mendengar itu, pak Budi hanya diam, yg ia pikirkan hanya satu. Pandhawa ada satu hal yang orang jawa percaya ketika sebuah keluarga melahirkan 5 anak lelaki atau 5 anak perempuan. itu adalah kutukan pandhawa, dan itu masih di percaya sampai saat ini.

maksud kutukanya adalah, konon, akan ada satu atau dua anak yang tidak bisa mengemban beban lebih. akibatnya, ia akan gila atau memiliki kekurangan mental yang benar-benar serius, dan biasanya yang paling umum di serang adalah, anak terakhir, namun, itu hanyalah rumor yang beredar, pak Budi saat itu, mencoba berpikir bahwa itu hanyalah mitos dari orang jaman dulu. namun, sepertinya, hal itu, juga berlaku pada keluarga ini. setidaknya itu, yang akan pak Budi lihat dengan mata kepala sendiri. selain 5 anak yang tinggal dirumah ini, ada lagi yang pak Budi harus tahu, bahwa setiap anak memiliki penjaga khusus untuk mereka satu persatu, dan biasanya, mereka dipanggil dengan Dayang Abdi, dan setiap Dayang Abdi akan menjaga satu anak. kesemua Dayang abdi, adalah seorang perempuan.

semua yang bu Asirih ceritakan, membuat pak Budi teringat dengan perempuan yang ia lihat tadi, apakah, anak kecil itu adalah salah satu dari 5 anak itu. bila benar, maka, perempuan yang ada di belakangnya adalah?? selain memberi penjelasan tentang itu, bu Asirih juga menjelaskan tentang hal lain, semua tempat, yang tidak boleh pak Budi datangi

yang paling dekat dengan kamar pak Budi adalah sebuah tempat sanggar Cayang, sebuah bangunan yang hampir sama seperti gazebo, namun ada di seberang bangunanya bisa dilihat langsung dari kamar pak Budi, jaraknya tidak terlalu jauh, namun, setiap dipandang, entah terlihat menakutkan sekali, seolah ada yang berdiri dipelataran gazebonya.

Pak Budi mengangguk, pertanda ia mengerti, dan hari itu, bu Asirih pergi. ada satu hal yang membuat pak Budi merasa asing saat berdiri disini adalah, aroma
entah sadar atau tidak, aroma bu Asirih, tercium seperti aroma Pandan. mengingatkanya pada sosok kuntilanak, yang sudah sering ia dengar di desa

namun, mulai hari ini, ia akan sering bertemu beliau Saat malam, kondisi rumah itu, nyaris sepi, sunyi. penerangan rumah pun hanya ada dibeberapa sudut, pak Budi menghisap beberapa batang rokok, ia duduk di depan kamar, memandang persis Gazebo yang tidak boleh ia datangi bila tidak bersama bu Asirih. entah karena bosan atau apa, pak Budi berjalan, mau melihat keseluruhan rumah ini meski hanya dari luar rumah, tapi ia tahu, larangan itu tidak akan pernah ia langgar, jadi pak Budi menghindari Gazebo itu

ia berjalan, menuju ke halaman rumah, tempat melihat anak lelaki kecil itu ia menelusuri kebun, cahayanya temberam hanya dari lampu kekuningan. berbekal rokok, pak Budi mencoba membuang sepi.

namun, rumah itu benar-benar bukan rumah yang menyenangkan, sejak awal tiba disini, pak Budi masih merasakan bila ia seperti sedang di awasi. setelah menempuh jalan setapak di kebun, sampailah ia di kolam ikan itu. ada pohon di sampingnya, lengkap dengan kursi kayu di sampingnya, disanalah ia melihat perempuan itu berdiri.

pak Budi kemudian duduk, pandanganya, tertuju pada kolam ikan. lama ia duduk disana, tiba-tiba, seseorang mendekatinya.

“Mas”

kaget, pak Budi langsung berbalik, dan mendapati perempuan itu memandangnya, masih dengan tatapan tidak mengenakan itu, seolah tanpa ekspresi yang membuat bulukuduk berdiri. “Masnya baru kerja disini?” suaranya sangat dingin, meski begitu, pak Budi menjawab sesopan mungkin, perempuan itu menjawab seadanya, bahkan ia tidak memberitahukan namanya pada pak Budi, ketika mereka masih saling berbincang satu sama lain, tiba-tiba, pak Budi baru menyadari, di belakang perempuan itu, anak lelaki itu bersembunyi di balik badan perempuan itu, mengintip dengan ngeri. seolah-olah, pak Budi memberinya ketakutan tersendiri. satu hal yang pak Budi ingat sebelum perempuan itu pergi.

“Nek dadi sampeyan, nek wes bengi ngene, luwih apik gak keluyuran mas, sampeyan gorong eroh, opo sing onok nang kene. monggo”
(kalau jadi anda, kalau sudah malam seperti ini, lebih baik tidak kemana2, anda belum tahu- apa yang ada disini. permisi mas.)

dengan senyuman menyeringai, si perempuan pergi, meninggalkan pak Budi sendiri di dalam keheningan itu. seketika, ketakutan seperti merasuki pak Budi. Rumah ini, benar-benar bukan rumah yang bagus untuk tinggal. batin pak Budi malam itu. tidak ada yang bisa di ajak bicara layaknya manusia dengan manusia di lingkungan rumah ini kecuali dengan pak Sasongko.

Pria paruh baya yang sehari2nya bekerja sebagai tukang kebun di rumah keluarga CIPTO, selain orangnya yang humoris, beliau juga sering memberikan wejengan. waktu itu, siang hari terik.

Pak Sasongko memangkas rumput, pak Budi hanya duduk mengawasi, sembari menunggu perintah di hari pertamanya bekerja, untuk membuang sepi, pak Budi, bertanya perihal bangunan gazebo yang terletak di seberang.

mimik wajah cerah pak Sasongko, berubah. “Masnya sudah pernah kesana?” tanya beliau.

“dereng pak, tapi kulo kok penasaran nggih, niku bangunan nopo toh pak” (belum pak, tapi saya penasaran, sebenarnya, itu bangunan untuk apa)

sembari memangkas rumput, pak Sasongko berpesan. “lebih baik, gak usah di cari tahu mas, daripada nasib sampeyan nanti seperti” belum melanjutkan kalimatnya, pak Sasongko melirik pak Budi yang melihatnya dengan tatapan curiga

” sinten pak?” (siapa pak?)

“sudah, lupakan saja, kerja saja yang benar ya nak” tutur pak Sasongko. bu Asirih menemui pak Budi, memberi pesan bahwa, hari ini, ndoro Sasri harus pergi ke rumah sakit untuk check-up, hal ini di lakukan selalu di hari kamis, seperti hari ini.

maka, saat itu juga, pak Budi menyiapkan mobilnya, menunggu, di teras rumah. sebenarnya, ndoro Sasri masih bisa berjalan, namun langkahnya tertatih dan harus di bantu oleh tongkat kayu yang selalu menemaninya, rambutnya di sanggul, meski warnanya sudah memutih, namun, riasan beliau masih memperlihatkan sosok wanita yang sangat berkharisma. “berangkat le” perintah beliau.

saat itu juga, pak Budi langsung menginjak gas mobilnya, perlahan, ia meninggalkan rumah itu. entah perasaan macam apa waktu itu, ketika keluar dari rumah itu, terasa hati menjadi lebih lega, seolah rumah itu membuat pak Budi tidak nyaman. “le, kerasan karoh Griya mungkih”

Griya mungkih, itu adalah sebutan untuk rumah itu, tidak banyak yang tahu, bahkan warga desa itu sendiri, termasuk pak Budi bila tidak di beritahu oleh bu Asirih tentang sejarah rumah itu.

rumah turun temurun dengan adat yang masih terjaga. “kerasan ndoro” kata pak Budi.

“panggil buk saja. awakmu guk Asirih, paham yo le” tutur ndoro Sasri, pak Budi pun mengangguk.

sosok ndoro Sasri, benar2 berwibawa, terlepas dari usianya yang sudah renta, beliau masih membuat segan siapapun yang beliau ajak bicara. kurang lebih 2 jam, pak Budi menunggu, akhirnya ndoro Sasri keluar, ketika sudah masuk ke dalam mobil, pak Budi bertanya, apakah mau langsung pulang atau mampir ke suatu tempat, dengan tatapan tegas, ndoro Sasri memberi sebuah alamat.

saat melihatnya, pak Budi terhenyak sesaat. “kita kesini buk”

ndoro Sasri mengangguk. tanpa pikir panjang, pak Budi pun melesat ke tempat itu, saat sampai disana, ada beberapa orang yang sudah seperti menunggunya, pak Budi membantu majikanya turun dari mobil, menggandengnya, dan menuju sebuah kamar di gedung itu. tempat itu adalah P***K Ja** A***K**, tempat ini kurang di kenal di kalangan masyarakat namun di kalangan staf medis di kota ini, semua tahu, itu adalah tempat rehabilitasi trauma atau kejiwaan. tempat yang tentu membuat pak Budi penasaran setengah mati. setelah menelusuri koridor panjang, terlihat seorang perempuan, dari cara berdirinya, ia menyerupai perempuan di rumah Griya mungkih, hanya saja, yang ini, wajahnya lebih tegas lagi

entah kenapa, ada ekspresi ketakutan dari cara memandangnya. ia membungkuk kemudian membuka pintu “beliau di dalam ndoro” cara berbicaranya pun gemetar.

tidak menjawab, ndoro Sasri langsung masuk, di dalamnya, ada seorang pria, berkisar di usia 20’an, hanya saja, sikap dan perilakunya, aneh.

ia hanya duduk, matanya kosong, memandang ke tembok. pak Budi yang melihat itu, hanya diam, tertegun lama. berbeda dengan pak Budi, si perempuan tampak gelisah, terlihat dari bagaimana ia memainkan jemarinya tanda tidak tenang.

ketika si lelaki tak di kenal itu melihat ndoro Sasri, ia, menjerit. matanya melotot, ketakutan, ia beringsut mundur, jeritanya juga terdengar aneh, tidak seperti jeritan ketika seseorang berteriak ketakutan atau panik, jeritanya tampak sumbang.

si perempuan yang sedari tadi melihat, seperti ingin masuk ke ruangan itu, namun, ia ketakutan juga. hal terakhir yang di ingat pak Budi adalah, ndoro Sasri memeluknya, meski kesusahan dengan tongkat di tanganya, ia berhasil memeluk lelaki tak di kenal itu, ada tangis pecah, dan kemudian, ndoro Sasri seperti berbisik sesuatu.

si lelaki yang histeris, tiba-tiba diam. benar-benar menjadi diam, tak berteriak lagi. pak Budi meninggalkan tempat itu, sore hari, ada satu kalimat yang masih di ingat setiap terbayang kejadian itu. perempuan itu, ia bertanya pada pak Budi.

“mas, masnya percaya dengan yang namanya, Jejek” “mumpung, mas nya belum tahu, lebih baik, cari kerjaan lain saja mas” saat itu, pak Budi masih belum paham maksud kalimat Jejek itu, jadi, hampir setelah kejadian itu, pak Budi terus terbayang-bayang. setelah pekerjaan itu selesai, pak Budi mencoba melupakan semuanya, ia tidak tahu siapa lelaki itu, siapa perempuan yang menyerupai dayang abdi atau apapun itu. belum.

setelah hari mulai petang, pak Budi menunaikan sholat di kamarnya. mungkin karena tidak fokus atau apa, selama sholat, ia merasa ada wajah wanita tua terbayang-bayang di setiap pak Budi mencoba khusyuk.

namun, itu belum seberapa, di bandingkan, suara tertawa yang khas, seperti terdengar meski hanya sayup lirih. membuat pak Budi teringat-ingat. suara tawa itu, nyaris atau sama persis seperti suara Ndoro Sasri.

ya. suara itu, terdengar tepat seperti ada di belakang pak Budi. tepat setelah pak Budi selesai menunaikan shalat, ia terkejut, bahkan tercekat mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.

dengan was-was, pak Budi membukanya, di temuilah, bu Asirih, melihatnya. “ndoro ingin ketemu mas” “monggo, njenengan kulo antarke” (ibuk ingin ketemu mas, silahkan, saya antar)

bingung. pak Budi ijin berganti sarungnya, untuk mengenakan celananya. setelah selesai, pak Budi mengikuti bu Asirih, seperti sebelumnya, tidak ada percakapan antara mereka berdua. seolah pak Budi di biarkan tenggalam sendirian. kali ini, bu Asirih menuntunya, masuk lebih jauh ke dalam rumah, seolah kali ini adalah langsung dimana ndoro Sasri menghabiskan malamnya.

di tengah perjalanan, tanpa sengaja, mata pak Budi, menangkap sosok anak kecil yang ia temui tempo hari, anak itu, menatapnya. kosong. ia menatap dari seberang sebuah ruangan, sebelum pak Budi terpaku pada caranya melihat, si perempuan yang selalu bersamanya, tiba-tiba muncul, menarik anak itu, dan menutup pintunya.

suasana rumah itu, benar-benar membuat pak Budi terasing sendirian. sesampai di kamar, ndoro Sasri seperti sudah menunggu. ia duduk di kursi goyangnya, di depanya, ia membawa sebuah buku.

setelah bu Asirih berpamitan pergi. pak Budi, mendengar majikanya menanyakan sesuatu yang mencurigakan.

“Le, ibuk takok yo. awakmu sholat?” (nak, ibuk mau tanya. kamu sholat ya?)

pertanyaan itu, dingin. namun, membuat pak Budi tertegun beberapa saat, sebelum ia mengangguk, lalu, ia melihat ndoro Sasri, tersenyum. tidak ada yang tahu, isi hati wanita tua itu. “bagus” tutur beliau. “ojok sampe ninggalno sholat ya le” (jangan sampai meninggalkan shalat ya nak)

belum berhenti di situ, kemudian, ndoro Sasri bertanya perihal yang lain.

“sing mok delok mau, iku cucuku. jeneng’e Yanu” (yang kamu lihat tadi, adalah cucuku, namanya Yanu) “Yanu iku asline cah pinter, tapi, wes pirang2 tahun sakjejane, onok sing berubah nang jero’ne ati’ne, sakjake iku, arek’e dadi gak waras”

(Yanu itu aslinya anak yang pintar, tapi sudah beberapa tahun ini, ada yang berubah di mulai dari prilakunya, anaknya jadi gak waras) “ibuk jalok tolong, ojok cerito sopo-sopo yo, nek onok sing nakoni” (ibu mau minta tolong, jangan ceritakan siapa-siapa ya kalau ada yang tanya)

setelah mengatakan itu, pak Budi melangkah pergi, ia menutup pintu kamar, berusaha kembali ke kamarnya. naas, pak Budi tidak tahu kemana ia harus berjalan kembali, tanpa tahu, ia menelusuri setiap lorong yang hampir pencahayaanya dari lampu kekuningan, banyak pintu sama yang pak Budi lihat.

manakal ia menuruni anak tangga, pak Budi terhentak saat melihat seorang anak lelaki lain. yang ini, terlihat seperti versi dewasanya anak kecil yang pak Budi lihat. anehnya, lelaki yang ini, hanya melihat pak Budi saja, seperti patung, tatapanya tidak kalah mengenakan dari tatapan semua yang pernah pak Budi lihat di rumah ini. “mohon maaf” kata pak Budi, bingung setengah takut. “saya sopir baru disini, bila boleh bertanya, kemana saya harus kembali ke” belum selesai mengatakanya, si lelaki menunjuk sebuah pintu.

tidak menjawab kalimat pak Budi, dan di belakang lelaki itu, lagi-lagi ada perempuan lain. perempuan itu sama diamnya, hanya melihat pergerakan pak Budi melalui bola matanya.

benar saja. pintu itu langsung menuju ke teras rumah.

tanpa pikir panjang, ia pun kembali ke kamarnya. lelah dengan semua yang ada di rumah ini. setelah satu minggu bekerja di rumah ini, pak Budi mulai tahu, sesiapa anak lelaki yang ada di rumah ini.

di mulai dari anak kecil itu, hingga anak lelaki yang pak Budi lihat pada malam itu. kesemuanya adalah cucu dari ndoro Sasri, namun meski begitu, pak Budi masih belum paham apa yang terjadi pada mereka semua dan apa alasanya mereka tampak sangat misterius seperti itu. yang pertama adalah anak kecil itu, ia sering menghabiskan waktunya bermain di kolam ikan, bersama perempuan yang menjaganya, namun bila dilihat dengan seksama, anak itu lebih sering merangkak di bandingkan berjalan dengan kedua kakinya, tidak hanya itu yang pak Budi lihat. tulang kaki dan tanganya, tampak berbeda bila di bandingkan dengan tulang anak seusianya yang lebih besar, ia seperti terjebak dalam tubuh yang kurus, meski warna kulit kuning langsatnya mengaburkan kejanggalan itu. bahkan ketika perempuan yang menjaganya membawanya masuk ke rumah, anak itu lebih suka di gandeng, layaknya primata, cara berjalanya seolah mengisyaratkan bahwa tulangnya sangat lemah dan tidak normal. anak yang pak Budi temui di malam itu juga tidak kalah aneh, pak Budi seringkali melihat anak itu, hanya duduk, memandang teras rumah. tidak sekalipun pak Budi pernah mendengar anak itu berbicara sekalipun. aneh. sangat aneh. namun, dari kesemuanya, hanya ada satu anak lelaki yang paling normal, namun ia, tidak menghabiskan waktu di rumah ini, ia seringkali mengunjungi rumah ini, hanya sebatas bertemu lalu pergi lagi, dan yang ini, tidak ada perempuan yang mendampinginya. berbeda dengan saudara2nya. dari kesemuanya, pak Budi sudah menghitung 4 cucu dari ndoro Sasri, yang membuat bingung, dimana cucunya yang ke 5..

hal itu, membuat pak Budi begitu penasaran. namun seriring waktu, ndoro Sasri perlahan seperti tengah mengawasi gelagatnya. Ada hal menarik yang harus banyak orang tahu tentang sosok ndoro Sasri.

Di balik wajah dinginya, ia adalah seorang yang tegas, tanpa banyak basa-basi sedikitpun. Meski begitu, ia adalah orang yang sangat loyal, terbukti ia seringkali memberikan uang kepada pak Budi. Meski pak Budi tidak meminta, tidak hanya uang, ia seringkali memberikan barang saat ia berkunjung ke sebuah tempat. Bahkan pak Budi merasa, bahwa ndoro Sasri adalah seorang kaya raya yang tidak sombong dengan harta dan pencapaian keluarganya. Namun tetap saja. Tidak ada yang tahu isi hati manusia. Terlebih, saat kejadian, di malam itu.

1 minggu, sebelum malam itu. Bu Asirih menemui pak Budi, beliau mengatakan, bahwa ndoro Sasri ingin bertemu, dan saat ini, beliau menunggu di gazebo atas lantai 2. Sebelum pak Budi pergi menemui ndoro Sasri, pak Budi menatap bu Asirih dengan tatapan bertanya-tanya.

Bertanya-tanya, akan malam sebelumnya, dimana tanpa sengaja, pak Budi melihat bu Asirih pergi ke pondok (gazebo) yang di larang. Namun, pak Budi hanya mengintip dari celah jendelanya, tidak hanya itu, pak Budi begitu tertarik dengan apa yang dibawah bu Asirih.

Sebuah sesajen lengkap dengan aroma dupa yang sudah di bakar.

Semenjak saat itu, pak Budi semakin yakin. Ada yang di sembunyikan di rumah ini. Ketemulah pak Budi, sama seperti sebelumnya, ndoro Sasri hanya duduk di atas kursi goyangnya, melihat pak Budi, ia mengisyaratkan senyuman kemudian menyuruh pak Budi untuk duduk, dengan suara tegasnya, yang terdengar seperti orang-orang tua kebanyakan. Ndoro Sasri bicara. “le, minggu ngarep, terno ibuk yo, nang gunung K********* , paling engkok nginep nang kono, isok yo”
(Nak, minggu depan, antar ibuk ya, ke gunung K*********, mungkin nanti akan menginap disana, bisa ya) “nginep pirang dinten nggih buk” (menginap berapa hari ya bu?)

“isok 3 dino, isok 2 dino. Tergantung, urusane mari po durung?!” (bisa 3 hari, bisa 2 hari, tergantung. Urusanya selesai apa belum?)

“nggih buk. Nggih. Saget,” (ya buk. Bisa) tutur pak Budi. Namun di dalam kepalanya, ia bertanya, urusan apa ia harus pergi ke tempat semacam itu, tidak ada apa-apa disana, bahkan, itu bukan gunung yang menjadi objek wisata. Setahu pak Budi, gunung itu adalah tempat dari banyak rumor, tentang tempat penuh aura mistis, meski yang di dengar pak Budi hanya sebatas di telinga saja. namun, ia tidak berhak mempertanyakan apapun, terhadap majkanya, terhadap ndoronya, karena ia bekerja kepadanya. Meski begitu, pikiran itu tidak bisa hilang begitu saja.
Bersiap untuk pamit, pak Budi melangkah pergi, namun, ndoro Sasri menghentikanya sejenak.

“sek to le, ibuk dorong mari ngomong” (sebentar dong nak, ibu belum selesai bicara) Pak Budi’pun kembali duduk.

“ngene le, mene pas ngeterno ibuk, gak usah takon aneh-aneh yo. Ibuk gak seneng ambek pitakon sing aneh-aneh, ojok mikir aneh-aneh pisan. Yo. Wes nyupir ae koyok biasa, anggap awakmu ra eroh opo-opo. Ngerti yo le” (begini nak, besok selagi mengantarkan ibuk, tidak perlu Tanya aneh-aneh, ibuk tidak suka di Tanya yang aneh-aneh, jangan mikir aneh-aneh juga, sudah. Nyupir seperti biasa saja, anggap kamu tidak tau apa-apa. Paham ya nak) Tutur kata ndoro Sasri yang halus seperti memiliki makna berlainan, seolah kalimat itu sudah di persiapkan lama sekali, untuk menekan pak Budi dan membuatnya tidak berbicara apa-apa.

Jadi. Apa yang sebenarnya akan pak Budi lihat. semenjak malam ketika pak Budi memergoki bu Asirih, setiap malam, ia akan menunggu di balik celah jendela kamarnya, berharap ia mendapat sedikit jawaban, apa yang sebenarnya bu Asirih lakukan, namun, nyatanya, ia tidak lagi menemukan keganjilan itu lagi. di siang yang terik, ketika pak Budi sudah menyelsaikan tugas mencuci mobilnya, ia berjalan keliling rumah, meski ada keinginan untuk mendekati Gazebo yang di larang itu, pak Budi tetap menghormati aturan dimana ia bekerja.

berkeliling rumah ini, memberinya sensasi kagum. setiap bangunanya dibuat semenarik mungkin layaknya rumah2 keraton jawa, karena hampir sepersekian bagianya selalu menggunakan bahan kayu jati solid

di tengah ia berkeliling, ia melihat anak kecil itu. anak yang bahkan sampai hari ini pak Budi bekerja, tidak ia ketahui namanya pak Budi mendekatinya, berharap bisa menyapanya, karena ia adalah bagian dari keluarga tempat ia bekerja. berbekal permen di kantongnya, pak Budi semakin mendekati si anak.

suara langkah kaki pak Budi, membuat si anak mengetahui kedatanganya. ia menoleh dengan mata bundarnya. mata mereka saling melihat satu sama lain, pak Budi tersenyum, namun, si anak, menatapnya begitu saja. benar2 cara menatap yang membuat semua orang tidak nyaman.

“dek. arep permen?” (dek, mau permen?) kata pak Budi. si anak masih diam, tidak ada kalimat atau gerak tubuh. setelah dirasa tidak ada tanggapan, si anak masih tidak juga merespon apa yang pak Budi tawarkan, ada sesuatu yang ganjil yang terjadi pada si anak.

ia tersenyum, menunjukkan 2 gigi depanya yang berlubang, kemudian, ia menunjuk pak Budi. cara menunjuknya, tidak seperti cara menunjuk anak seumuranya, tanganya gemetar naik turun, seperti layaknya anak berkebutuhan khusus, tidak hanya itu, untuk pertama kalinya, ia mendengarnya bersuara.

suaranya sangat berat namun tak memiliki intonasi nada kalimat benar. terdengar seperti “Huuuu Haaa Huuuu Haaaa” dan itu membuat pak Budi tidak mengerti sama sekali.

lalu, kejadian itu terjadi.

meski si anak tampak tersenyum memamerkan giginya, ia melihat ada air mata keluar dari 2 bola matanya, seakan-akan ia menangis. menangis, dengan ekspresi wajah tersenyum.

lalu, si anak membenturkan kepalanya ke lantai, keras sekali, hal itu membuat pak Budi berlari menghentikan si anak.

ia tidak tahu, saat memegang si anak, anak itu meronta meminta pak Budi melepaskanya. kuat sekali, cengkraman anak itu hal yang pak Budi ingat adalah, ia melihat perempuan yang menjaga si anak datang dengan ekspresi kaget, melepaskan pak Budi dari si anak dan membawanya pergi.

sebelum pergi, ada tatapan marah di wajah si perempuan kepada pak Budi, hal itu membuat pak Budi bingung. Malam kebrangkatan itu pun tiba.

sebelumnya, bu Asirih sudah memberitahu. agar, menggunakan mobil lain, mobil yang lebih besar, mobil yang bahkan belum pernah pak Budi sentuh sama sekali. hal itu, tidak menimbulkan kecurigaan apapun. tidak sampai ia tahu, siapa saja yang pergi. Malam itu, Pak Budi sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, menunggu kedatangan Ndoro Sasri, dari jauh, pak Budi melihat dengan mata kepala sendiri, si anak kecil melihatnya dari jauh, di belakangnya ada si perempuan, tatapan mereka dingin. Tidak hanya itu saja, pemandangan lain terlihat dari lantai 2, pak Budi bisa melihat dengan jelas, anak lelaki yang lain, ia menatap sama dinginya sama seperti si anak kecil dari salah satu kamar di lantai 2, seakan-akan mereka memberi salam perpisahan kepada pak Budi. Tidak beberapa lama, ndoro Sasri keluar, ia di bantu oleh ibu Asirih, melihat itu, pak Budi segera membantunya masuk ke dalam mobil.

Ndoro Sasri mengenakan kebaya putih, dengan terusan sewek (selendang batik) dari gaya busananya, seolah ndoro Sasri, akan menghadiri perjamuan. Tidak ada pertanyaan terlontar dari pak Budi, hanya sekelibat pemikiran liar, saat melihat penampilan ndoro Sasri malam itu yang benar-benar terlihat layaknya bangsawan jawa.

“berangkat sekarang ndoro” Tanya pak Budi, yang sudah duduk di bangku sopir. Belum mendapat jawaban apapun, tiba-tiba pintu mobil terbuka dan ibu Asirih melangkah masuk, lalu ikut duduk di samping ndoro Sasri, pak Budi terdiam sejenak sebelum ndoro Sasri mengatakanya.

“Asirih melu yo le” (ibu Asirih ikut nak) “nggih” kata pak Budi, gaguk. Ini mengejutkan, baru pertama kali, pak Budi melihat ibu Asirih keluar dari rumah ini, sebagai abdi yang paling tua di rumah ini, pak Budi belum pernah melihat wanita tua itu meninggalkan rumah ini, bahkan untuk belanja’pun, ia tidak keluar rumah. karena sejatinya, ibu Asirih lebih suka menyuruh abdi lain atau pak Sasongko, tukang kebunya untuk menyelesaikan kewajiban bila harus keluar rumah.

Bila di pikir ulang, ibu Asirih juga misterius, sama misteriusnya dengan keluarga ini. Seakan-akan ada pembatas dirinya dengan beliau, yang tidak dapat menjalin hubungan sebagai sesama pengabdi di keluarga CIPTO ini, namun segera pak Budi menepis pikiran itu.

Mobil pun melaju, setelah ndoro Sasri menyuruh pak Budi berangkat. Di tengah mobil yang melaju, ndoro Sasri mengatakanya, “le, mampir dilek nang Yanu yo,” (Nak, kita mampir sebentar ke tempat Yanu).

Pak Budi ingat dengan nama itu, cucu beliau yang ada di K**********, tanpa pikir panjang, pak Budi segera meluncur menuju kesana. Di luar dugaan, kehadiran mereka seakan sudah di tunggu, terlihat di lorong tamu gedung itu, Yanu duduk bersama perempuan yang memberi petuah misterius itu agar meninggalkan pekerjaan ini sebelum tahu apa itu JEJEK, yang sampai sekarang, belum pak Budi pahami. Pak Budi hanya menunggu di dalam mobil, sementara bu Asirih dan ndoro Sasri pergi menemui Yanu, ada peristiwa yang menarik saat pak Budi melihat apa yang terjadi, ia mendengar lolongan, jeritan dari Yanu, yang membuat bulukuduk berdiri. Yanu yang sebelumnya ia tahu anak muda berkisar usia 20’an, menjerit seperti anak kecil, tidak di ketahui apa alasanya, namun, bila di perhatikan dengan seksama, apakah ada hubunganya dengan ibu Asirih. Setelah kurang lebih 10 menit, bu Asirih, ndoro Sasri, kembali ke mobil, dengan, Yanu di depan mereka, kini, mereka bertiga sudah masuk ke dalam mobil. Ada perasaan tidak mengenakan sebelum pak Budi meninggalkan tempat itu, yaitu. Tatapan perempuan itu kepada pak Budi. seakan-akan perempuan itu mengatakan, “lak wes di omongke, kudune rungokno pisuruhku” (bukanya sudah ku bilang, dengarkan ucapanku).

Pak Budi pun melanjutkan perjalanan itu, menuju tempat yang ndoro Sasri ceritakan tempo hari. 7 jam perjalanan, jam menunjukkan pukul 2 dinihari. Memasuki sebuah jalanan yang sepi, sunyi, kiri kanan hanya ada pepohonan rimbun, kabut perlahan muncul, dan hanya pak Budi yang terjaga saat itu, setidaknya itulah yang pak Budi pikir, sebelum, pak Budi menyadari sesuatu. ,Semua mata di dalam mobil ternyata sama terjaganya dengan beliau. “ndoro, ibuk, mboten tilem tah” (Ndoro, ibuk, kenapa belum tidur?) Tanya pak Budi, namun, anehnya, pertanyaan pak Budi tidak di gubris, seakan- mata mereka terbuka namun sukma mereka tengah tertidur. Pak Budi mengulang 3 kali pertanyaan itu, namun tetap tidak mendapat jawaban. Hal itu, menimbulkan ketakutan tersendiri kepada pak Budi

Mungkin karena itu juga, memicu pak Budi sehingga kehilangan fokus, akibatnya, perlahan, di tengah kegelapan jalan dan medan naik turun, terlihat di kiri kanan jalan, tiba-tiba ramai orang berbaris. Membuat pak Budi kaget Bagaimana mungkin, di tengah jalan gunung seperti ini, banyak aktifitas kiri kanan yang ramai orang, seperti pasar dadakan. Kejadian itu terjadi cukup lama, sampai, sentuhan ibu Asirih menghentakkanya, membuat pak Budi memekik kaget dan menginjak rem kuat-kuat. Ban mobil berdencit keras, beradu dengan aspal, sebelum berhenti total, bu Asirih melihat pak Budi dengan tatapan dingin.

“bu, enten nopo buk,” (bu ada apa ini?) Tanya pak Budi, kaget, tepat di depan pak Budi ada sebuah pohon besar, dan mobil sudah keluar dari jalur aspal. “wes gak popo. Gak usah di pikirno, wes cedek kok. Ayo lanjutno” (sudah gak papa, gak usah di pikirkan, ayo lanjutkan perjalananya, sudah dekat kok)

bu Asirih kembali duduk. mata Yanu masih kosong, begitu juga dengan ndoro Sasri. Bingung, pak Budi yakin, tadi melihat banyak keramaian orang di kiri kanan jalan, seperti apa yang baru saja terjadi hanya kilasan mimpi, Untuk ukuran peristiwa bahwa mobil akan menghantam pohon, tak ada satupun orang yang berwajah panik. Hanya pak Budi sendiri yang panik. Setelah menempuh 1 jam perjalanan lagi, mereka melihat sebuah gapura, tidak di ketahui ada gapura di tanah gunung ini, ibu Asirih yang menyuruh masuk ke gapura itu, seakan ibu Asirih sudah seringkali melewati jalanan ini. Tanpa bertanya, pak Budi menurut saja. Meski jalanan tidak beraspal, tanahnya tampak sering di lewati oleh mobil, dengan samping kiri kanan masih pohon lebat. Cukup jauh dari jalan utama, sebelum mencapai, sebuah gerbang singgah. Berdiri sebuah Vila besar, di depanya ada tulisan. “Vila Th***S”

Pak Budi melirik tulisan pada papan tua yang di buat dari papan kayu yang sudah tua.

Bangunanya menyerupai bangunan belanda. Yang pak Budi pertama pikirkan tentang bangunan itu mungkin adalah bangunan milik pribadi dari ndoro Sasri. yang menjadi masalah adalah, di luar Vila, sudah ada mobil lain terparkir. Vilanya bagus sekali, hanya pencahayaanya yang kurang disana-sini. Pak Budi memarkir pelan. dari luar, ada lelaki yang membukakan pintu, membantu ndoro Sasri keluar, lirikanya membuat pak Budi merinding, karena dari caranya melihat seperti bukan ndoro Sasri yang pak Budi kenal. bukan hanya ndoro Sasri, Yanu juga dibantu keluar, mereka membawanya masuk ke Vila, sementara, ibu Asirih meminta pak Budi menunggu di dalam mobil.

tidak lama kemudian, ibu Asirih masuk ke Vila.

pak Budi berdiam sendirian, melihat bahwa samping Vila hanya ada pepohonan gelap. pak Budi keluar dari mobil, ia duduk di atas kap mobil, menyalakan sebatang rokok, ia merasa ngeri bila memperhatikan sekitar. masih bingung, siapa pemilik mbil lain disini, dan apa yang sebenarnya di lakukan majikanya di tempat seperti ini. tidak beberapa lama, terdengar suara orang memanggil, pak Budi pun melihat, dari jauh, ibu Asirih memanggilnya. melambaikan tanganya, pak Budi pun bersiap menuju kesana. sebelum, ada seseroang tiba-tiba keluar dari mobil terparkir, rupanya sedari tadi di dalamnya ada orang lain. “jangan mendekat mas” kata orang asing itu. logatnya seperti logat orang Ja***ta.

“gimana mas, itu, teman saya yang memanggil”

orang asing itu masih diam, lalu berujar dengan nada bertanya. “yakin itu temanmu yang baru keluar dari mobil mas?” ucapan orang itu membuat pak Budi bingung, tepat ketika melihat ibu Asirih lagi, tidak ada orang yang berdiri disana, hanya lorong Vila yang gelap.

“di tempat seperti ini, hal seperti itu sudah biasa mas. anggap saja, ada yang ingin kenalan”

pak Budi pun mendekati orang itu. orang itu memberitahunya, kalau dia memang dari kota Ja***ta, alasan kenapa dia ada disini, karena ia baru saja mengantarkan majikanya.

di tengah percakapan itu, pak Budi tiba-tiba bertanya. “tempat apa sih ini mas. kok pelosok sekali untuk ukuran Vila pribadi” orang itu, diam lama. mengamati, kemudian melihat pak Budi sembari berkata. “anda sopir baru ya?”

pertanyaan itu membuat pak Budi merasa aneh, seolah-olah ia baru saja melontarkan pertanyaan yang salah, namun pak Budi menjawab sejujurnya.

“nggih mas”

orang itu, terdiam lama. ia menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum melepaskanya, sampai asap putih mengepul di udara. seolah bingung dengan apa yang harus di katakan, orang itu berkata. “bila belum jauh, lebih baik saja berhenti. pesan saya cuma itu saja mas, anggap saja, itu cara saya kenalan sama anda” “maksudnya gimana mas?” tanya pak Budi, dan tiba-tiba, seseorang menepuk bahu pak Budi, itu adalah bu Asirih, seraya melihatnya dengan tatapan tidak mengenakan.

“di celok ket mau kok gak njawab, ayok melbu” (di panggil dari tadi kok tidak menjawab, ayok masuk) pak Budi mengangguk, bersiap berpamitan dengan orang itu, tapi, anehnya, tidak ada siapapun disana. hanya pak Budi sendirian, dengan ibu Asirih yang masih menunggu pak Budi melangkah dari tempat itu

“golek opo?” (cari apa kamu)

pak Budi pun hanya diam sembari berjalan mengikuti selama di perjalanan masuk Vila, ibu Asirih mengatakan hal-hal yang pak Budi tidak mengerti, tentang unggah ungguh menjadi abdi sebuah keluarga, tentang sejarah dan bagaimana adat istiadat dijaga disebuah keluarga, dan berakhir di kalimat. Sesajen (sesaji) “Budi” kata ibu Asirih, nadanya dalam dan dingin. “awakmu percoyo ambek ndoro Sasri?” (Budi, kamu percaya dengan ndoro Sasri)

“nggih ibuk”

“Bagus. awakmu siap dadi abdi nang keluarga iki”

Pak Budi terdiam lama, ia mencoba mencerna kalimat itu. “Abdi sing yok nopo buk maksud njenengan” (Abdi yang bagaimana maksud anda buk)

“Abdi sing bakal nuruti kemauan junjungan” (Abdi yang harus mengikuti majikan apapun itu)

Pak Budi tidak menjawab. ia masih mencerna setiap kalimat itu, sampai, suara teriakan dari Yanu terdengar. ibu Asirih langsung berlari, penasaran, pak Budi mengikutinya. ia masuk ke dalam Vila yang rupanya dari dalam seperti bangsal, banyak lorong dan pintu kamar di sepanjang jalan.

di dalam begitu lembab, sampai pak Budi bisa mencium bebauan kemenyan disana-sini. ibu Asirih berhenti di sebuah bangsal kecil, setelah menuruni anak tangga. disana, ada pintu tua, lengkap dengan kotak dengan besi layaknya pintu penjara, di dalamnya, ada ndoro Sasri, duduk di kursi goyang dengan rambut terurai berantakan yang menutupi wajahnya. ibu Asirih mendekati ndoro Sasri, yang terus menerus menggoyangkan kursinya, pak Budi hanya diam termangu melihatnya, di samping kiri kanan, banyak sekali sesajian, lengkap dengan bunga dan dupa, disana-sini. ibu Asirih mengambil sekerawuk (sekepal) bunga 7 rupa. dengan talaten (sabar) menyuapkanya ke mulut ndoro Sasri, semua yang pak Budi lihat, benar-benar di luar logikanya. ia tidak pernah melihat hal segila ini di depanya. sebelum, matanya teralihkan pada sosok dengan kain kafan yang ada di atas ranjang bangsal. “le” terdengar suara ndoro Sasri memanggil pak Budi, “mreneo le” (kesini nak)

ndoro Sasri melambai-lambaikan tanganya yang keriput, disampingnya, ibu Asirih berdiri menatap pak Budi dingin, namun, mata pak Budi tertuju pada seonggok kain kafan yang menggeliat di atas ranjang. “Yanu” kata pak Budi, gemetar. ia tahu, itu Yanu yang di ikat diatas ranjang, namun, pak Budi tidak mengerti apa yang terjadi disini.

anehnya, ketakutan yang pak Budi rasakan, malah menuntunya mendekati ndoro Sasri yang terus melambai-lambaikan tanganya. “le, gelem dadi Abdi si mbah yo” (nak, kamu mau jadi Abdinya mbah)

“Mbah” kata pak Budi mengulangi

ndoro Sasri tidak pernah menyuruhnya memanggil si mbah, beliau lebih suka dipanggil ibuk. pikir pak Budi, dan setelah memikirkan itu, ndoro Sasri tertawa, membuat pak Budi begidik ibu Sasri mendekati pak Budi, kemudian menuntunya mendekati Yanu. ia benar-benar di ikat dengan 5 titik tali pocong, sudah menyerupai jenazah.

“Adusono yo” (mandikan)

tempat disamping ranjang, ada sebuah genok (kendi besar) berisi air, lengkap dengan gayung dari batok kelapa. Pak Budi menyiramkan air itu ke tubuh Yanu, wajahnya di tutup dengan kain, sehingga kemungkinan ia kesulitan untuk bernafas, air yang di siramkan terdapat bunga 7 rupa, tidak hanya itu, di bawah ranjang, rupanya ada sepotong ayam cemani yang kepalanya sudah dipenggal. tidak mengerti namun pak Budi menurut saja, ia begitu ketakutan malam itu.

tidak beberapa lama, ndoro Sasri turun dari kursi goyangnya, ia berjalan tertatih-tatih menuju pak Budi, caranya berjalan nyaris seperti cara berjalan orang tua pada umumnya, hanya saja, ia lebih bungkuk. tepat ketika ndoro Sasri sudah di depan pak Budi, ia melihat Yanu, kemudian menangis di atasnya.

pak Budi beringsut mundur. masih tidak mengerti. dengan cekatan, ia melepaskan satu persatu ikatan tali pocongnya, kemudian menelanya bulat-bulat.

Pak Budi yang melihatnya, mual. Yanu yang sedari tadi menggeliat, tiba-tiba terbujur kaku. ia tidak lagi, bergerak sama sekali.

ndoro Sasri kemudian mendekati pak Budi, membawanya keluar dari ruangan itu, ia menutup pintu, menuntun pak Budi menjauh dari tempat itu. disebuah tempat yang jauh dari ruangan itu, ndoro Sasri duduk di depan pak Budi yang tampak shock.

ia tidak tahu, apa yang ia perbuat malam ini.

“sak iki, takokno opo sing kepingin mok takokno le” (sekarang tanyakan semua pertanyaan yang ingin kamu tahu?) “sinten njenengan asline” (siapa anda sebenarnya)

“liane isok, ” (tanyakan yang lain saja)

“sinten sing ngerasuki ndoro ibuk” (siapa yang ada di dalam tubuh ibuk)

“liane” (yang lain)

“Yanu sedo?” (Yanu meninggal?)

ibu Asirih menggelengkan kepala, “gak. ragane tok sing mati” “kulo yok nopo buk” (saya bagaimana buk)

ibu Asirih tersenyum melihat pak Budi, ia tahu, pemuda di depanya sudah ketakutan setengah mati.

“tergantung”

ucapan itu membuat pak Budi menatap ibu Asirih lama, sebelum akhirnya ibu Airih pergi. “mene moleh, nek wes mari kabeh” (besok kita pulang. kalau semuanya sudah selesai) pagi hari, ibu Asirih datang menemui pak Budi, kemudian ia mengatakanya. “di enteni ndoro nang teras” (kamu di cari ibuk di teras)

Pak Budi berdiri, kemudian melangkah menuju ndoro Sasri. ndoro Sasri diam menatap Taman di teras Vila.

“wes eroh kabeh awakmu le” (kamu sudah tahu semuanya nak)

pak Budi hanya menggelengkan kepala,

“Asirih gorong cerito tah” (Asirih belum cerita ya)

“dereng buk” (belum buk)

“mari iki, ayok muleh” (habis ini, kita pulang) selama perjalanan, pak Budi tidak bisa melepaskan matanya dari Yanu, tubuhnya dibalut dengan selendang, matanya sayu, kosong seperti tidak bernyawa.

di dalam batin pak Budi, bergemuruh keinginanya untuk berhenti dari pekerjaan ini, namun, ia terganjal bagaimana bila hal buruk -menimpanya. apa yang akan terjadi dengan keluarganya

bagaimana bila ia menceritakan ini kepada orang lain, adakah yang percaya. bukti apakah yang bisa ia buktikan.

sesampainya di Griya, ndoro Sasri, mengajaknya ke gazebo yang di larang itu, “awakmu pensaran to ambek nggon iku” (kamu pensaran kan dengan tempat itu) anehnya. pak Budi menjawab, ia tidak penasaran lagi. “mboten buk” (tidak buk)

“kok ngunu” (kok begitu)

“Oh iyo” (oh iya) awakmu wes eroh opo sing onok nang kunu” (kamu sudah tahu apa yang ada disana)

“nggih buk. kulo nebak, niku cucu mbarep sampeyan buk, mas’e yanu” (iya buk, saya menebak, itu cucu pertama ibuk. kakaknya Yanu)

“dadi wes eroh kabeh sak iki.” (jadi kamu sudah tahu semuanya)

pak Budi mengangguk. “tetep bakal metu awakmu le” (kamu tetap mau berhenti)

“nggih buk” kata pak Budi, “kulo dereng ngomong nggih ten sabda sak wisi ibu Asirih nawani kulo” (saya belum berjanji untuk mau saat ibu Asirih menawari permintaanya mengabdi pada ibuk)

“aku wes eroh,” (saya sudah tau) hari itu, pak Budi meninggalkan tempat itu.

ia bercerita kepada keluarganya, namun anehnya, semua yang pak Budi ceritakan seperti tidak di gubris oleh keluarganya, seakan-akan semua orang sudah tahu, bapaknya, menyuruh pak Budi bertemu dengan seseorang. saudara jauhnya. “awakmu kudu di pageri le mulai sak iki” (kamu harus di lindungi mulai hari ini)

berangkatlah pak Budi menemui saudara jauh atas perintah bapaknya, disana rupanya ia sudah di tunggu, namun ada kejadian yang hampir menghilangkan nyawa pak Budi saat menuju kesana. ia hampir saja di hantam Truk dari depan, saat sepeda motor RC’nya kehilangan kendali, untungnya, pak Budi masih di beri selamat, karena ia bisa langsung berdiri dan menghindar.

detik itu, ia tahu, apa maksud ucapan bapaknya, bahwa ia harus di pagari mulai sekarang. saat motornya di periksa, di antara ban luar dan ban dalam, ditemukan potongan bambu kuning, sehingga ketika motor bergerak, membuat ban menjadi selip dan akhirnya hilang kendali. bahkan, saat dilihat, orang yang memeriksanya ikut kaget.

“mas, njenengan di incer wong ya” (mas, anda di incar orang ya)

“kok ngunu pak?” (kok bisa bilang begitu pak?)

“mana bisa orang memasukkan benda seperti ini ke dalam ban, kalau bukan ilmu hitam”

Pak Budi hanya bisa berdoa, di berikan selamat sampai tujuan. dan ketika ia sampai disana. pak Budi menceritakan semuanya kepada saudaranya itu.

saudaranya hanya mengangguk, mengerti, bahkan ia tahu, di belakang pak Budi, ada puluhan jin mengikutinya, namun sudah di usir saat menginjak perkarangan rumah ini. disanalah, pak Budi di beritahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarga itu. “sosok yang kamu lihat di malam itu, adalah kepala keluarga” “ia selalu ikut kepada keturunanya, atas perjanjian yang ia buat dengan jin yang selama ini menjadi satu ikatan dengan keturunan-keturunanya. kain kafan, hanya simbol, ia hidup dari memakan sukma keturunanya” “kalau saya tanya, ada yang aneh gak sama keluarganya, sama anak-anaknya, sama cucu-cucunya?” tanya saudara pak Budi.

“enten mas” “cucu’ne roto-roto, aneh kabeh” (semua cucuya sikapnya aneh semua)

saudara pak Budi tersenyum kecut mendengarnya. “keluarganya tidak akan bisa utuh. mereka harus menanggung konsekuen dari perjanjian, entah harta, entah nyawa. yang paling kecil, tunawicara, kakaknya, ia buta, kakaknya lagi, mengalami gangguan kejiwaan, dan yang kamu pikir ada di gazebo itu anak pertama, dia lumpuh” “maksud’e sampeyan, arek sing ndelok aku iku gak isok ndelok mas, tapi arek’e sering nontok aku” (maksudnya gimana, anak yang mas kira buta itu bisa lihat aku loh) ucap pak Budi. “Kemungkinan, ia hanya bisa merasakan kehadiranmu, karena cuma kamu yang belum mengabdi pada keluarga itu” “kamu sering di perlakukan tidak menyenangkan oleh mereka kan?” “mereka sedang mencoba ngasih tahu kamu, biar segera pergi meninggalkan keluarga itu. paham” ucap lelaki itu. “tapi onok cucu’ne siji seng normal mas” (tapi ada satu anak yang normal)

“ya” kata lelaki itu. “dia yang nanti akan jadi pewarisnya, dan keturunanya juga yang akan terus menanggung akibatnya. ini semacam, nandor balak” (menanam perkara) “dan akan terus mengikuti” “pernah dengar, kalau pesugihan itu sebenarnya mengambil rejeki dari keluargamu sendiri, dari darah dagingmu sendiri. baiklah, jin bisa membuat dagangan kamu laris, yang sebenarnya terjadi, rejeki yang kamu dapat dari cara sesat ini, hanya mengambil jatah milik keturunanmu” “seperti itu cara kerja pesugihan”

“pesugihan nopo niki mas jeneng’e?”

“”Pesugihan, Dolor renca” “pesugihan yang menggunakan keluarga sendiri sebagai tumbal, ganti rugi atas apa yang mereka dapat, bisa berupa harta yang melimpah, namun sebagai gantinya, saudaranya harus- -rela mati sukmanya”

“tahu siapa orang yang menjaga agar tradisi ini tetap ada di keluarga ini?” tanya lelaki itu pada pak Budi.

“siapa mas?”

“wanita tua yang selalu di samping majikan kamu” “siapa namanya, Asirih!!” “mas mau ngomong, nek aku di perlakukan ngunu, cekne sadar, aku gak terikat ambek keluarga iki, tros, piye ambek cah wedok sing dadi abdi gawe cucu’ne”

(Masnya tadi bilang, kalau aku di perlakukan seperi itu biar sadar, dan tidak terikat dengan keluarga ini, lantas, bagaimana- -dengan perempuan yang sudah mengabdi untuk cucunya)

“Mati” kata lelaki itu. “semua manusia nantinya kan mati, jadi ya semacam ikatan batin, bila sukma majikanya sudah mati, ya, dia ikut mati dengan cara yang aneh-aneh, bisa penyakit, bisa kecelakaan, bisa bunuh diri juga” “sebenarnya. kamu beruntung. majikan kamu, tidak mau kamu terikat juga, yang jahat itu si Asirih, dia yang ingin kamu mati, tapi tidak apa-apa, mulai sekarang, lebih dekat lagi sama tuhan, umur manusia, tuhan yang pegang, bukan wanita itu” hari itu, pak Budi belajar banyak. ia tahu, apa yang terjadi di keluarga itu, potongan pertanyaan yang selama ini tertanam di kepalanya kini terjawab. sejak saat itu, kemanapun pak Budi pergi, ia selalu menceritakan cerita ini, kepada sahabatnya, tetangganya, saudara-saudaranya. ia tidak mau lagi, melihat, ada, seseorang yang ia kenal, mengikuti jejak pesugihan yang bukan hanya menyengsarakan pelakunya, namun, berimbas pada semua keluarganya.

sejak awal, gw sudah bilang, cerita ini adalah cerita yang sering cangah gw ceritakan sama gw. gw cuma berharap, ada pelajaran yang bisa di petik dari cerita yang gw sajikan ini.

gak ada pesan lagi yang bisa gw sampaikan, karena gw yakin kalian tahu apa hikmah yang bisa di ambil dari segelitir bukti bahwa kadang manusia bisa menjadi serakah hanya karena setitik harta gw simple_man , mau undur, diri. tetap semangat, jaga kesehatan, semoga gw bisa menyajikan cerita lain dari orang-orang yang ingin berbagi sedikit dari rahasia alam yang tersimpan di dunia ini. akhir kata. Wassalam. mohon maaf bila ada kesalahan pengetikan dan penulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *